Showing posts with label Opiniku. Show all posts
Showing posts with label Opiniku. Show all posts

Monday, June 16, 2008

Bicara Sampeeeee Puaaasssss......

Adalah salah satu bunyi iklan promosi tarif GSM yang sering kita lihat baik itu di iklan Televisi ataupun iklan-iklan yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Para provider/operator GSM dan CDMA sudah 3 bulan terakhir ini perang tarif untuk mempromosikan produk-produk tarif mereka. Seakan-akan mereka tidak mau kalah satu sama lainnya dan menunjukkan dialah penarik tarif yang paling murah. Perang tarif ini mulai berlaku sejak adanya keputusan pemerintah soal tarif telepon dan tarif sms. Dan bila dilihat dari segi tarif, memang ini menguntungkan kita pemakai GSM-GSM yang bersangkutan. Tetapi apakah demikian adanya...???

Pada minggu-minggu pertama, memang iklan ini sangat menguntungkan kita para konsumen. Bayangkan saja, kita bisa ngobrol sampee puaass selama 1 jam hanya dengan tarif Rp. 600,- pada pukul 23.00-10.59 sesama operator. Dan karena kenyataan yang didapat oleh kastamer benar adanya, maka kastamer itu sendiri ikut-ikutan promosi ke orang-orang terdekat mereka untuk menggunakan operator yang sama. Dengan dukungan iklan di media massa yang begitu gencar dan promosi dari mulut ke mulut, maka secara otomatis pengguna kartu prabayar inipun meningkat tajam.

Dan ternyata apa yang terjadi di kemudian hari??? banyak konsumen yang mengeluhkan bahwa tarif Rp. 600,- bukanlah tarif yang sebenarnya dengan kata lain iklan ini adalah bohong semata. Ujung-ujungnya konsumen merasa dirugikan. Pada minggu-minggu awal tarif Rp. 600,- memang untuk 60 menit alias 1 jam penuh. Tapi sudah 1 bulan ini tarif Rp. 600,- hanya bisa dinikmati untuk 34 menit 34 detik. Begitu juga dengan tarif-tarif Rp. 1.200,- dan Rp. 1.800,-. Dengan begitu 1 konsumen merasa dirugikan sebanyak Rp. 256,6 sekali telepon di saat antara pukul 23.00-10.59. Dan Rp. 513,2 pada saat tarif berlaku Rp. 1.200 dan 769,8 pada saat tarif berlaku Rp. 1.800,- dan tinggal dikalikan aja berapa pelanggan yang gagal komunikasi tersebut ataupun yang mengalami pemangkasan periode berkomunikasi.

Sesungguhnya yang terjadi adalah karena banyaknya pelanggan yang menelpon secara bersamaan dalam satu waktu dan besarnya bandwith operator atau apalah istilahnya tidak diperbesar/diperlebar, maka yang timbul adalah terjadinya kegagalan komunikasi dan berakibat menyusutnya periode promosi atau bahkan kegagalan komunikasi total. Bila pihak provider/operator membiarkan ini berlarut-larut, maka provider/operator tersebut sangatlah tidak profesional dan tidak konsekuen dengan iklan/janji yang keluarkan oleh provider/operator itu sendiri. Sedangkan mereka adalah sebuah perusahaan yang besar dan ternama serta peraih 5 kategori dari Indonesia Cellular Award dari 7 kategori penilaian. Dan ujung-ujungnya menipu konsumen itu sendiri.

Saya yakin tidak hanya operator ini saja yang mengalami kendala ini. Dan saya juga yakin tidak hanya pelanggan operator ini saja yang merasa dirugikan dengan iklan-iklan/janji-janji operator. Tetapi yang perlu dikedepankan adanya profesionalisme dalam berbisnis dan kepuasaan pelanggan adalah hal yang utama.

Bagi saya lebih baik menjadi operator/provider yang profesional dan konsekuen dengan janji walaupun memasang tarif lebih mahal Rp. 5 dari pada yang lain daripada ikut-ikutan perang tarif dan berdampak pada merugikan pelanggan dengan alasan teknis.

Bagaimanakah dengan Anda...apakah Anda puas dengan janji-janji operator selular Anda dan akankah Anda tetap setia dengan operator selular Anda bisa Anda mengalami hal yang sama???? BRAVO BICARA SAMPEEE PUAAASSSS...

Selengkapnya...

Saturday, June 14, 2008

Ternyata.......

Ternyata susah juga ya membangun reputasi di dunia maya. Membangun reputasi di dunia maya ternyata gampang-gampang susah. Terlebih bila ingin bersosialisasi di dunia maya. Contohnya saya sendiri. Iklan sudah digelontor sampai dengan usaha memberikan souvenir bagi pemberi komentar di blog saya ini tapi masih sepi-sepi saja tuh.

Jujur saya suka menulis. Tapi saya bukan seorang jurnalistik ataupun seorang selebritis yang mempunyai daya jual tinggi. Yang saya inginkan hanyalah tulisan saya tuh berguna bagi orang lain dan bagi saya pribadi khususnya. Saya tidak tahu tulisan saya itu jelek, standar, lumayan ataukah bagus. Karena sebuah tulisan akan dikatakan jelek, standar, lumayan, bagus atau bahkan basi bila pihak lain yang tertarik untuk membaca dan mau mengomentari tulisan tersebut. Dan saya menginginkan itu semua untuk kemajuan diri saya sendiri. Tapi ternyata..........gampang-gampang susah juga ya mendapatkan komentar dari pihak lain untuk tulisan-tulisan saya.

Jadi, apa ada yang salah ya dengan tulisan-tulisan saya selama ini............?????????????????????????? ataukah Anda mempunyai trik khusus buat itu semua???

Selengkapnya...

Tuesday, April 22, 2008

Kartini dan Emansipasi wanita

Baru sehari kita bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Berbagai profil ditayangkan dan dibahas di Media. Dari para wanita pengumpul batu kali dengan nyawa taruhannya di bawah derasnya arus air mengalir sampai si penemu Jarimatika-bantuan jari untuk melakukan perhitungan. Berbagai rasa bercampur aduk dalam perasaan kita; sedih, terharu, senang, bangga dan lain sebagainya bercampur menjadi satu menyaksikan perjuangan-perjuangan mereka.

Adapula kalangan yang menuntut persamaan perempuan dan laki-laki dibidang pendidikan dan dunia politik sebagai bentuk emansipasi wanita. Jujur saya pribadi menghargai dan bangga dengan perjuangan Ibu kartini untuk kaum wanita, tapi apa yang terjadi sekarang ini bagi saya bukanlah sebagai bentuk emansipasi wanita lagi tetapi mengarah ke lebih dari itu yang saya sendiri tidak mengetahuinya gejala apakah ini.

Saya setuju bila dalam pendidikan, persamaan hak kaum wanita haruslah sama dengan kaum pria walaupun orientasi kedepannya bukan untuk bekerja tetapi untuk membelajari anak-anak mereka, kebanggaan diri ataupun untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, tapi untuk dibidang lain sepertinya jangan terlalu memaksakan diri. Dalam bidang politik misalnya, apakah perlu para wanita terjun di kancah politik yang umumnya para politikus sering berada di luar rumah dalam waktu panjang???. Dan apabila politikus-polikus itu terdiri dari wanita-wanita yang keberadaannya di luar rumah dalam waktu panjang, apa jadinya....anak-anak mereka yang jelas-jelas membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu?? apakah anak-anak mereka akan tumbuh besar bersama pembantu/babysitter??? dan kemanakah para bapak/para prianya, apakah para suami yang harus berada di rumah???

Haruskah nantinya dalam satu rumah tangga terjadi persaingan sengit antara si istri dan si suami, apalagi bila si istri berbeda bendera politik dengan si suami??? Ataukah posisi wanita harus diganti dengan pria, atau posisi pria diganti oleh wanita (wah...pusiiing) seperti kondisi kebanyakan yang terjadi saat ini di kalangan masyarakat kita....?????? banyak kaum wanita sibuk mencari nafkah di luar, dan kaum pria ongkang-ongkang kaki;menganggur;ngorok di rumah, atau bahkan ada yang mengisi di waktu nganggur mereka digunakan untuk main kartu, nyimeng, dan jualan sabu-sabu dan ujung-ujungnya nanti terjadinya kekerangan dalam rumah tangga karena masing-masing pihak mempunyai ego yang tinggi (naudzubillah).

Janganlah pengertian emansipasi wanita dijadikan alasan oleh banyak kaum pria selalu memiliki rasa pasrah bila mereka belum/tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkan ataupun pasrah akan keadaan yang serba sulit ini dengan tanpa adanya perjuangan-perjuangan yang maksimal untuk memujudkan stabilitas ekonomi bagi masing-masing individu, dan bagi kaum wanita, janganlah emansipasi wanita dijadikan alasan untuk berkarir kuat di luar rumah dengan meninggalkan buah hati-buah hati mereka tumbuh dengan pembantu dan tanpa kontrol.

Alangkah indahnya bila pengertian emansipasi wanita diisi dengan saling bahu membahu antara wanita dan pria untuk saling mengisi kekosongan dengan mengedepankan posisi masing-masing sesuai dengan kodratnya dan selalu berpegang teguh pada " Selalu Bersyukur".

Selengkapnya...

Wednesday, February 13, 2008

Kesehatan itu perlu

Siapa yang tak mau bila mempunyai tubuh yang sehat dan segar. Selalu bergairah dalam beraktifitas dan bersemangat dalam bekerja? jawabannya adalah semua orang ingin dan mau mempunyai tubuh yang sehat dan segar. Di era globalisasi ini semua serba cepat, semua orang ingin cepat dan cepat. Karena ingin cepatnya hingga mereka tidak memperhatikan kesehatan diri sendiri, lingkungan sekitarnya dan keluarga.

Aku bingung, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan tubunya lagi, masih banyak masyarakat yang selalu mengabaikan kesehatan dirinya, lingkungan sekitarnya dan keluarganya. Untuk lingkungan sekitarnya, mereka masih dengan kesadaran rendah, selalu membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum dan lebih gilanya lagi masih banyak para bapak dan ibu yang perokok, merokok sambil menggendong bayinya, sering aku melihat di lingkungan tempat tinggalku yang terletak di sebelah utara Jakarta, masih banyak masyarakat setempat membuang sampah ke laut karena mereka enggan menunggu tukang pengangkut sampah yang datangnyapun bisa dihitung dengan jari selama sebulan padahal kami selalu membayar iuran bulanan untuk sampah. Entahlah ke mana perginya uang iuran warga itu hanya Allah dan penagihnya aja yang tahu. Dan satu hal lagi yang masih dilakukan oleh warga setempat, mereka yang tidak mau membuat jamban di rumahnya, selalu (maaf) beol di pinggir laut walaupun di situ sudah ada ponten umum. Mereka lebih senang menghabiskan uang mereka untuk kesenangan sesaat daripada patungan dengan anggota keluarga mereka untuk membuat jamban atau bayar beol di ponten. Untuk kesehatan keluarga mereka, seperti yang saya katakan di atas, masih banyak para bapak dan ibu yang perokok, dengan santainya mereka merokok sambil menggendong anak-anak mereka. Mereka dengan keegoisan diri hanya memikirkan kepuasan sendiri, kesenangan sesaat tanpa memikirkan dampaknya bagi bayi mereka. Di lingkungan tempat tinggalku malah sering aku lihat anak balita ( bayi di bawah 5 tahun), disuruh orangtuanya untuk pergi ke warung guna membeli rokok eceran.

Ternyata pingin serba cepat juga menghinggapi para remaja, anak-anak modern dan para eksekutif muda dalam memilih makanan. Mereka lebih senang menyantap makanan cepat saji, tak mau atau jarang mau masak sendiri di rumah dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Pingin serba cepat juga menghinggapi banyak pemilik usaha/pengusaha.

Mereka inginnya mempunyai pegawai yang mau kerja keras dan serabutan, penurut-tidak menuntut macam-macam dari perusahaan, tapi giliran pegawainya jatuh sakit atau kas bon untuk anggota keluarganya berobat atau untuk keperluan lain...wah...nanti dulu itu, "Nanti saya pikirkan dulu deh" Jawabnya. Memang setiap manusia mempunyai keegoisan masing-masing tapi masih maukah pengusaha-pengusaha yang peduli dengan kesejahteraan pegawainya (yang belum atau tidak mau peduli akan pegawainya)? UMR dari pemerintah setempat selalu disiasati dengan berbagai cara, dengan memberikan upah harian bagi pegawai baru, memberikan uang makan lebih besar daripada uang gaji sehingga mereka akan terhindar dari pemberian THR yang besar tetapi selalu siap memberikan uang makan Rp.25.000-Rp. 30.000 setiap hari dibandingkan menaikkan gaji pokok Rp. 100.00-Rp. 200.000 per kepala, membandingkan gaji pegawai kantoran yang sudah bekerja di atas 5 tahun dengan gaji kurir di sebuah mall kecil, bahkan lucunya lagi ada juga yang menaikkan uang makan sebesar Goceng alias Rp. 5.000,- dalam setahun lagi dan tanpa embel-embel lagi, padahal hidup mereka lebih dari cukup. Deposito rupiah dan dollar sudah menggunung, apartemen, beberapa kavling rumah dan tanah berhektar-hektar sudah mereka miliki dan bepergian ke luar negeri bisa mereka lakukan 2-3 kali setahun.

Masih banyak pengusaha yang enggan mengikutsertakan pegawainya dalam program Jamsostek, padahal setiap bulannya gaji pegawai dipotong untuk iuran Jamsostek tersebut. Selalu bertele-tele bila ada pegawai yang menyodorkan kuitansi berobat, yang ada di benak mereka selalu terpikir bahwa pegawai ini bohong gak ya sakitnya tapi mereka tidak pernah menjenguk ke rumah para pegawai yang sakit kalau tidak pegawai itu terkapar di rumah sakit, selalu berkelit untuk mengeluarkan uang bagi pengobatan pegawainya dengan alasan perusahaan tidak menanggung penyakit bawaan misalnya: kolestrol tinggi, darah rendah/tinggi, diabetes dll yang baru juga diketahui saat berobat. Intinya perusahaan selalu menuntut performa yang tinggi, pengabdian dan pengabdian....naik gaji...gampang itu...bisa dibicarakan nanti...

Bila kita sendiri tidak peduli dengan kesehatan kita, siapa lagi yang akan peduli akan kesehatan kita dan keluarga kita???????? Padahal perusahaan tidak peduli dengan kesehatan dan kesejahteraan para pegawainya, pengurusan kartu miskin/berobat gratis sangatlah berbelit-belit pengurusannya, para bapak/ibu yang perokok juga tidak peduli dengan kesehatan anak-anaknya........wah heboh deh kalau menulis panjang lagi di sini. Jawabannya hanya satu KITA SENDIRI yang harus peduli dengan kesehatan kita dan keluarga kita.

Jadilah eksekutif muda yang bisa masak dan punya waktu untuk keluarga, kurangilah makanan cepat saji, jadilah seorang istri dan seorang ibu dan bapak tentunya yang bijaksana bagi kesehatan anggota keluarganya sehingga tidak menyajikan jajanan bakso dan mie instan untuk makanan sehari-hari, siapkanlah menu 4 sehat bila tidak bisa menyiapkan menu 4 sehat 5 sempurna bagi anggota keluarga sehingga mereka tidak lagi jajan di luar rumah. Jadilah pengusaha yang bijaksana dan peduli dengan lingkungan usahanya. Ikutkanlah pegawai-pegawai kalian dalam program Jamsostek bila tidak ingin pusing memikirkan uang pengganti berobat, lakukan pengasapan untuk menghindari penyakit yang disebabkan oleh nyamuk atau serangga secara berkala, perhatikanlah kesejateraan pegawai kalian dengan kenaikan gaji secara berkala wakaupun itu hanya setahun sekali. Janganlah berbuat curang pada pegawai kalian dengan membesarkan uang makan dari pada gaji pokok yang jauh dari ketetapan UMR sedangkan kalian bisa bepergian ke luar negeri sekeluarga 2 kali setahun atau hanya ingin menaikkan uang makan sebesar GOCENG sampai menunggu satu tahun lamanya. Sesungghnya kalian bukan siapa-siapa tanpa adanya pegawai-pegawai itu dan semua yang kalian lakukan dengan cara tidak adil akan berbalik ke diri kalian sendiri melalui cara Tuhan yang tidak akan bisa kita perkirakan sebelumnya.

Bagi pegawai yang sudah dijamin kesehatannya oleh perusahaan, jadilah individu yang peduli akan kesehatan, jangan berpikir "ah..aku sakit ada asuransi kok". Bagi pegawai yang tidak mempunyai jaminan kesehatan dari perusahaan pedulilah dengan kesehatanmu sendiri walaupun sakit seringan apapun, dan cobalah membicarakan program Jamsostek pada perusahaan bila perusahaan tidak mampu membayar asuransi kesehatan bagi pegawainya. DI DALAM TUBUH YANG SEHAT TERDAPAT JIWA YANG SEHAT PULA..

Selengkapnya...
Reviewmu.com Paid Review Indonesia Adsense Indonesia