Wednesday, February 13, 2008

Kesehatan itu perlu

Siapa yang tak mau bila mempunyai tubuh yang sehat dan segar. Selalu bergairah dalam beraktifitas dan bersemangat dalam bekerja? jawabannya adalah semua orang ingin dan mau mempunyai tubuh yang sehat dan segar. Di era globalisasi ini semua serba cepat, semua orang ingin cepat dan cepat. Karena ingin cepatnya hingga mereka tidak memperhatikan kesehatan diri sendiri, lingkungan sekitarnya dan keluarga.

Aku bingung, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan kesehatan tubunya lagi, masih banyak masyarakat yang selalu mengabaikan kesehatan dirinya, lingkungan sekitarnya dan keluarganya. Untuk lingkungan sekitarnya, mereka masih dengan kesadaran rendah, selalu membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum dan lebih gilanya lagi masih banyak para bapak dan ibu yang perokok, merokok sambil menggendong bayinya, sering aku melihat di lingkungan tempat tinggalku yang terletak di sebelah utara Jakarta, masih banyak masyarakat setempat membuang sampah ke laut karena mereka enggan menunggu tukang pengangkut sampah yang datangnyapun bisa dihitung dengan jari selama sebulan padahal kami selalu membayar iuran bulanan untuk sampah. Entahlah ke mana perginya uang iuran warga itu hanya Allah dan penagihnya aja yang tahu. Dan satu hal lagi yang masih dilakukan oleh warga setempat, mereka yang tidak mau membuat jamban di rumahnya, selalu (maaf) beol di pinggir laut walaupun di situ sudah ada ponten umum. Mereka lebih senang menghabiskan uang mereka untuk kesenangan sesaat daripada patungan dengan anggota keluarga mereka untuk membuat jamban atau bayar beol di ponten. Untuk kesehatan keluarga mereka, seperti yang saya katakan di atas, masih banyak para bapak dan ibu yang perokok, dengan santainya mereka merokok sambil menggendong anak-anak mereka. Mereka dengan keegoisan diri hanya memikirkan kepuasan sendiri, kesenangan sesaat tanpa memikirkan dampaknya bagi bayi mereka. Di lingkungan tempat tinggalku malah sering aku lihat anak balita ( bayi di bawah 5 tahun), disuruh orangtuanya untuk pergi ke warung guna membeli rokok eceran.

Ternyata pingin serba cepat juga menghinggapi para remaja, anak-anak modern dan para eksekutif muda dalam memilih makanan. Mereka lebih senang menyantap makanan cepat saji, tak mau atau jarang mau masak sendiri di rumah dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Pingin serba cepat juga menghinggapi banyak pemilik usaha/pengusaha.

Mereka inginnya mempunyai pegawai yang mau kerja keras dan serabutan, penurut-tidak menuntut macam-macam dari perusahaan, tapi giliran pegawainya jatuh sakit atau kas bon untuk anggota keluarganya berobat atau untuk keperluan lain...wah...nanti dulu itu, "Nanti saya pikirkan dulu deh" Jawabnya. Memang setiap manusia mempunyai keegoisan masing-masing tapi masih maukah pengusaha-pengusaha yang peduli dengan kesejahteraan pegawainya (yang belum atau tidak mau peduli akan pegawainya)? UMR dari pemerintah setempat selalu disiasati dengan berbagai cara, dengan memberikan upah harian bagi pegawai baru, memberikan uang makan lebih besar daripada uang gaji sehingga mereka akan terhindar dari pemberian THR yang besar tetapi selalu siap memberikan uang makan Rp.25.000-Rp. 30.000 setiap hari dibandingkan menaikkan gaji pokok Rp. 100.00-Rp. 200.000 per kepala, membandingkan gaji pegawai kantoran yang sudah bekerja di atas 5 tahun dengan gaji kurir di sebuah mall kecil, bahkan lucunya lagi ada juga yang menaikkan uang makan sebesar Goceng alias Rp. 5.000,- dalam setahun lagi dan tanpa embel-embel lagi, padahal hidup mereka lebih dari cukup. Deposito rupiah dan dollar sudah menggunung, apartemen, beberapa kavling rumah dan tanah berhektar-hektar sudah mereka miliki dan bepergian ke luar negeri bisa mereka lakukan 2-3 kali setahun.

Masih banyak pengusaha yang enggan mengikutsertakan pegawainya dalam program Jamsostek, padahal setiap bulannya gaji pegawai dipotong untuk iuran Jamsostek tersebut. Selalu bertele-tele bila ada pegawai yang menyodorkan kuitansi berobat, yang ada di benak mereka selalu terpikir bahwa pegawai ini bohong gak ya sakitnya tapi mereka tidak pernah menjenguk ke rumah para pegawai yang sakit kalau tidak pegawai itu terkapar di rumah sakit, selalu berkelit untuk mengeluarkan uang bagi pengobatan pegawainya dengan alasan perusahaan tidak menanggung penyakit bawaan misalnya: kolestrol tinggi, darah rendah/tinggi, diabetes dll yang baru juga diketahui saat berobat. Intinya perusahaan selalu menuntut performa yang tinggi, pengabdian dan pengabdian....naik gaji...gampang itu...bisa dibicarakan nanti...

Bila kita sendiri tidak peduli dengan kesehatan kita, siapa lagi yang akan peduli akan kesehatan kita dan keluarga kita???????? Padahal perusahaan tidak peduli dengan kesehatan dan kesejahteraan para pegawainya, pengurusan kartu miskin/berobat gratis sangatlah berbelit-belit pengurusannya, para bapak/ibu yang perokok juga tidak peduli dengan kesehatan anak-anaknya........wah heboh deh kalau menulis panjang lagi di sini. Jawabannya hanya satu KITA SENDIRI yang harus peduli dengan kesehatan kita dan keluarga kita.

Jadilah eksekutif muda yang bisa masak dan punya waktu untuk keluarga, kurangilah makanan cepat saji, jadilah seorang istri dan seorang ibu dan bapak tentunya yang bijaksana bagi kesehatan anggota keluarganya sehingga tidak menyajikan jajanan bakso dan mie instan untuk makanan sehari-hari, siapkanlah menu 4 sehat bila tidak bisa menyiapkan menu 4 sehat 5 sempurna bagi anggota keluarga sehingga mereka tidak lagi jajan di luar rumah. Jadilah pengusaha yang bijaksana dan peduli dengan lingkungan usahanya. Ikutkanlah pegawai-pegawai kalian dalam program Jamsostek bila tidak ingin pusing memikirkan uang pengganti berobat, lakukan pengasapan untuk menghindari penyakit yang disebabkan oleh nyamuk atau serangga secara berkala, perhatikanlah kesejateraan pegawai kalian dengan kenaikan gaji secara berkala wakaupun itu hanya setahun sekali. Janganlah berbuat curang pada pegawai kalian dengan membesarkan uang makan dari pada gaji pokok yang jauh dari ketetapan UMR sedangkan kalian bisa bepergian ke luar negeri sekeluarga 2 kali setahun atau hanya ingin menaikkan uang makan sebesar GOCENG sampai menunggu satu tahun lamanya. Sesungghnya kalian bukan siapa-siapa tanpa adanya pegawai-pegawai itu dan semua yang kalian lakukan dengan cara tidak adil akan berbalik ke diri kalian sendiri melalui cara Tuhan yang tidak akan bisa kita perkirakan sebelumnya.

Bagi pegawai yang sudah dijamin kesehatannya oleh perusahaan, jadilah individu yang peduli akan kesehatan, jangan berpikir "ah..aku sakit ada asuransi kok". Bagi pegawai yang tidak mempunyai jaminan kesehatan dari perusahaan pedulilah dengan kesehatanmu sendiri walaupun sakit seringan apapun, dan cobalah membicarakan program Jamsostek pada perusahaan bila perusahaan tidak mampu membayar asuransi kesehatan bagi pegawainya. DI DALAM TUBUH YANG SEHAT TERDAPAT JIWA YANG SEHAT PULA..

No comments: