Tuesday, February 05, 2008

Jakarta Siap Tenggelam

Saat aku mengalami banjir di Jakarta, aku sungguh kaget dan gak bisa membayangkan sebelumnya, maklum saja selama aku tinggal di Surabaya dan Bontang-Kaltim belum pernah aku mengalami banjir seperti yang aku alami di Jakarta, paling-paling hanya di daerah Banyu Urip Surabaya yang agak parah karena maklum saja "kali" yang berada di tengah-tengah jalan lebih tinggi dibandingkan badan jalan sehingga jalanan dan daerah di sekitar "kali" tersebut selalu mengalami banjir bila hujan sangat lebat. Dan itupun tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk surutnya.

Saat itu di awal tahun 2002 untuk yang pertama kalinya aku mengalami banjir di Jakarta. Saat itu aku tinggal di Taman Apel, Tanjung Duren Jakarta Barat. Saat itu banjir mencapai pangkal pahaku yang mempunyai tinggi 160 cm ini. Sudah banjir ada isu buaya lepas dari sangkarnya lagi...jadinya aku sangat kuatir untuk berjalan menuju rumah yang jaraknya 700 meter dari jalan besar. Berdua bersama teman sekerjaku, Isa, kami berjalan menuju mess dengan hati penuh galau dan resah bila terjadi apa-apa dengan kami karena jalanan gelap karena pihak PLN memadamkan lampu seluruh daerah Tanjung Duren. Jujur aku gak habis berpikir saat itu, kenapa bisa banjir sampai pangkal paha padahal tak jauh dari mess kami terdapat Mall Ciputra atau Citraland dan Mall Taman Anggrek. Banyak orang mengatakan bahwa Jakarta akan selalu banjir dalam waktu 5 tahun sekali. "Wah, bakal ada kekuatiran lagi nih 5 tahun mendatang", kataku saat itu.

Ternyata.........saat aku pindah ke Grogol di tahun berikutnya, banjir kembali melanda Jakarta dan ini lebih parah ditambah macet dimana-mana. Saat itu dari Slipi sudah mulai macet karena depan Ciputra Mall banjir dan aku terpaksa jalan kaki dari slipi ke Dr. Susilo-Grogol. Dan banjir kembali melanda Jakarta di tahun-tahun berikutnya. Tahun 2007 makin parah, jalanan Jatinegara-otista penuh dengan lumpur. Hingga jalan Tol pun dibuka untuk segala kendaraan. Dan 1 Pebruari 2008 Jakarta kembali tak berdaya melawan banjir. Jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta pun lumpuh dan besoknya semua surat kabar menulis besar-besar, "Akibat Banjir, perekonomian rugi Miliaran rupiah"

Wahai pemerintahku, sampai kapan banjir akan melumpuhkan Jakarta? Sampai kapan kalian bertindak tidak cepat menangani banjir ini? sampai kapan kalian selalu berpikir "Ah Banjir, itu mah sudah biasa." sampai kapan kalian memikirkan perut kalian sendiri, bangkitlah pemerintahku...ajak semua elemen masyarakat untuk menanggulangi banjir. Undang semua insinyur untuk memberikan ide mereka menangani banjir dengan diadakannya Lomba menata tata kota Jakarta yang bersih, aman dan bebas banjir. Beriklanlah besar-besar untuk mencari anak bangsa yang terbaik. Sehingga uang tidak mubazir dikeluarkan dan tidak hanya berputar pada korupsi dan korupsi dan mengenyangkan perut sendiri. Atau contohlah pembangunan-pembangunan saluran air di negara-negara maju, percepat yang konon katanya pembangunan KANAL BARAT dan KANAL TIMUR.
Akankah kita menjadi bangsa yang terpuruk ataukah bangsa yang sejahtera????? itu pilihan kita sendiri sebagai bangsa Indonesia.

No comments: