Tuesday, May 13, 2008

Mei 2008

Menjelang peringatan hari kebangkitan nasional, Indonesia mengalami berbagai peristiwa di bulan Mei tahun 2008 ini. Yang pertama, adanya usulan pemberian uang intensif bagi anggota polantas sebesar Rp. 10.000,- rupiah sekali terjadi penilangan. Dari yang saya baca di surat kabar, ada 40% suara yang menyetujui usulan tersebut dan 50% menolak usulan tersebut.


Saya pribadi, sangat tidak setuju dengan adanya usulan tersebut. Karena apa? anggota polantas kita akan berlomba-lomba melakukan penilangan kepada pengendara bermotor. Sehingga nantinya yang akan terjadi di lapangan adalah, anggota polantas membiarkan para pengguna jalan untuk melakukan kesalahan terlebih dahulu tanpa adanya memberikan peringatan/mengingatkan kepada para pemakai jalan sedangkan untuk saat ini saja masih banyak anggota polantas yang tidak memberikan peringatan/mengingatkan para pejalan kaki yang seenaknya menyebarang jalan saat lampu lalu lintas masih hijau, ataupun para angkot yang ngetem sebarangan walaupun di daerah ngetem tersebut jelas-jelas terpasang rambu dilarang berhenti dan rambu-rambu tersebut tepat berada di depan kantor polisi (daerah Glodok)ataupun beberapa anggota polantas berada di tempat saat ada pejalan kaki yang menyeberang seenaknya. Pemandangan ini selalu terlihat di daerah beos-kota, Jakarta atau bahkan di pelbagai daerah.


Bila kondisi ini sering dibiarkan dan para anggota polantas masih memiliki sikap tersebut, maka usulan ini semakin memberatkan para pengendara bermotor. Bila terjadi kecelakaan karena pejalan kaki menyeberang seenaknya saat lampu lalu lintas dalam keadaan hijau, maka tetap saja pihak pengendara bermotor yang menanggung beban berat. Menanggung biaya korban dan biaya berurusan dengan kepolisian tentunya dan belum lagi bila terjadi penghakiman massa, padahal nyata-nyata pejalan kakilah yang salah.


Bila tujuan usulan ini untuk menaikkan taraf hidup bagi anggota polantas, maka solusi yang terbaik adalah membenahi terlebih dahulu mental polantas kita untuk bisa bersikap profesional dalam lapangan dalam arti tidak menunggu pemakai jalan untuk melakukan pelanggaran lalu lintas tapi lebih mengarah ke mendidik para pemakai jalan untuk bisa patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas, penyuluhan ketertiban lalu lintas bagi pemakai jalan, dengan tidak mudahnya mengeluarkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi pemilik kendaraan bermotor yang bukan berarti terjadinya pungli-pungli liar di SAMSAT dengan menggugurkan permohonan pembuatan SIM tanpa adanya keterangan secara jelas dan terperinci saat tes tertulis ataupun tes praktek. Bila kondisi tersebut telah berjalan, maka gaji anggota polantas bolehlah dinaikkan dengan dimasukkannya anggaran tersebut ke negara.

Tetapi bila usulan tersebut tetap akan dilaksanakan, setidaknya pihak polri harus bersikap adil dalam menangani pelanggaran pemakai jalan, pejalan kakipun harus ditilang bila menyeberang seenaknya sendiri yang seakan-akan menunjukkan bahwa pejalan kaki yang salah saat menyeberang mempunyai kekebalan hukum di bidang perlalu-lintasan negara kita. Janganlah memanjakan pejalan kaki yang telah nyata-nyata membahayakan jiwanya sendiri dan pengendara bermotor. Dan yang terpenting adalah pemberian contoh yang baik oleh anggota polantas itu sendiri saat bertugas, saat mengemudi dan menyeberang jalan (yang selalu sering terlihat suka memotong jalan seenaknya, melawan arus dan melanggar lampu lalu lintas bila saat bertugas untuk memudahkan dirinya sendiri padahal saat itu puluhan mata menatap perbuatan anggota polantas tersebut). Bila kondisi tersebut tetap dibiarkan maka perbuatan anggota polantas tersebut secara tidak langsung mengilhami para pemakai jalan untuk berbuat demikian.

Yang kedua, pemerintah memberikan wacana kenaikan BBM di akhir bulan Mei dan adanya BLT (Bantuan Langsung Tunai). Sesungguhnya BLT itu sendiri tidak menyelesaikan masalah karena banyak rakyat miskin di seluruh Indonesia yang belum terjangkau oleh adanya BLT di tahun 2005 lalu. Pemerintah seakan tidak ingin bekerja keras untuk meningkatkan kemakmuran bersama dengan adanya pernyataan tidak perlunya perdataan kembali keluarga miskin dan pemerintah yakin data rakyat miskin di Indonesia ini tidak berubah. Demo besar-besaran terjadi di berbagai daerah untuk menolak BLT ini dan sebagai rakyat yang cerdas, sepatutnya kita bersatu padu untuk M E N O L A K B L T di manapun kita berada dengan tujuan mendidik pemerintah untuk lebih bersikap dewasa dan bijaksana dalam berbagai situasi.

BLT ini sendiri adalah hal yang tidak mendidik kita bangsa Indonesia, bila memang BBM harus naik, maka harusnya pemerintah memberikan laporan secara transparan kepada seluruh lapisan bangsa karena kita rakyat di level bawah hanya tahu bahwa negara kita termasuk penghasil minyak bumi yang diekspor ke luar negeri.

Yang ketiga
, Semakin terpuruknya prestasi Indonesia di bidang Olahraga. Piala Thomas dan Uber untuk kesekian kalinya melayang dari tangan Indonesia. Perjuangan putra dan putri Indonesia di perhelatan besar ini belum mampu memperbaiki prestasi Indonesia di bidang Olahraga.

Tiga Kejadian Besar ini seakan-akan menjadi tamparan tersendiri bagi Indonesia yang masih juga belum mampu bangkit dari keterpurukan di segala sektor ini. Dan menjelang peringatan hari Kebangkitan Nasional ini, keadaan Indonesia semakin terpuruk dan terpuruk.

Lalu, apa yang diharapkan dari peringatan hari Kebangkitan Nasional itu sendiri bila pemerintah tidak bisa memahami kondisi bangsanya sendiri dan tidak bisa bekerja sama dengan rakyatnya sendiri?????????

Apa yang kita harapkan dari peringatan hari Kebangsaan Nasional bila kita masing-masing hanya memikirkan perut kita sendiri-sendiri, hanya memperkaya diri sendiri, hanya bisa membangun kerajaan bagi kita dan golongan sendiri tanpa memperhatikan kondisi di sekeliling kita?????

Masih perlukah kita bangsa Indonesia setiap tahunnya memperingati hari Kebangkitan Nasional bila kondisi negara kita hanya ini dan itu dari tahun ke tahun????????????

No comments: