Tuesday, May 06, 2008

Apa yang harus kulakukan.......??????

Minggu pagi handphoneku berdering, saat ku lihat di layar LCD, terpampang nomer pemanggil yang tidak kukenal. Dengan berat hati kuangkat padahal biasanya aku selalu bersikap acuh dengan nomer yang tidak terdapat di daftar teleponku apalagi saat itu aku masih setengah merem. Dan saat ku dengar suara laki-laki di seberang sana....aku kaget dan sangat tidak percaya dengan pendengaranku, tapi aku tidak berani menebak sampai laki-laki si seberang sana mengingatkanku.

Dan ternyata beanr adalah Dia. Dia, seseorang yang pernah dekat denganku 6 tahun lalu. Dia yang pernah mengisi hari-hariku selama kurang lebih 4 tahun. Dan aku gak tahu harus ngomong apa saat terhubung dengannya. Jujur aku gak punya firasat sedikitpun untuk bertemu dengannya apalagi di Jakarta. Dan ternyata dia ingin berjumpa denganku.....waduhhhhhhhhhh bergetar tubuh ini. Apa yang harus kukatakan padanya nanti??

Terbayang kembali ingatanku pada kejadian 8 tahun yang lalu, saat aku dengan terpaksa meninggalkan dirinya karena tidak adanya restu orang tuaku untuk hubunganku dengannya, padahal saat itu kami sudah melangkah ke rencana pernikahan. Perbedaan usia di antara kami sesungguhnya bukanlah masalah hanya saja latar belakang keluarga kamilah yang memicu tidak turunnya restu orang tuaku untuk dirinya. Dan sesungguhnya pihak dirinyalah yang kurang komunikasi dengan pihak keluargaku. Dia kurang membuka diri di hadapan keluargaku karena dia memang sosok laki-laki yang tidak banyak omong tapi dia tipe laki-laki yang penuh tanggung jawab.

Dari hari ke hari aku berjuang seorang diri untuk meyakinkan keluargaku. Berbagai sinyal kukirimkan padanya untuk lebih terbuka di hadapan keluargaku. Memang ada perubahan sedikit pada dirinya tapi itu semua belumlah cukup untuk suatu hubungan yang menuju ke hubungan yang lebih jauh yaitu pernikahan. Tapi anehnya, perubahan sikap darinya sangat menonjol dirasakan keluargaku saat kami telah memilih jalan masing-masing. Dia lebih terbuka dengan keluargaku dengan segala curhatnya dan pendekatannya. Tapi apalah daya, saat itu semua dia lakukan, dia telah menjatuhkan pilihan cintanya pada gadis lain dan mereka telah bersiap-siap menuju mahligai rumah tangga dan aku kembali dihadapkan pada sakit hati yang teramat dalam saat tiba-tiba dia telpon aku untuk mengatakan bahwa dia tidak bisa kembali lagi padaku, walaupun kami tidak pernah membicarakan hal itu berdua. Tapi belakang hari kemudian aku ketahui itu wujud usaha keluargaku untuk mempersatukan aku dan dia kembali.

Kekecewaan-kekecewaan itulah yang membuatku menjadi tak berdaya dan aku lebih memilih menjauh dari orang tuaku dan larut dalam pengembaraanku sebagai pencari cinta yang tiada henti. Hancur, dan kegelisahan kualami bertahun-tahun dan tak ada satu orangpun yang tahu. Aku hanya dikenal sebagai sosok yang tegas, cuek dan lebih memilih karir daripada membina rumah tangga. Padahal apa yang terlihat dalam diriku saat itu hanyalah sebagai sikap profesionalku sebagai kepala cabang. Dan aku yakin dia juga mengalami hal yang sama atau bahkan lebih sakit dari yang aku rasakan, itu semua terlihat dari sikapnya setiap bertemu denganku selama bertahun-tahun saat aku mudik untuk silaturahmi pada hari raya Idul Fitri.

Dan di Minggu siang itu, saat kami kembali bertemu aku tak kuasa menahan air mata dan kekecewaan hati ini yang telah kupendam dan kurasakan selama bertahun-tahun terhadap dirinya. Segala unek-unek yang ada dihatiku selama bertahun-tahun tentang dirinya kulontarkan padanya dan dia hanya terpaku. Allah masih memberikan kekuatan padaku untuk bisa bertemu dengannya dan kamipun saling meminta maaf.

Tapi apa yang terjadi, kemudian hari dia telpon da mengungkapkan isi hatinya yang tidak bisa melupakan aku. Dan seakan-akan cinta lama kembali bersemi di hati kami berdua. Ya Allah......apakah ini ujian untukku ataukah jalan bagiku untuk menemukan suami idamanku??????? Dia malah hadir lagi dalam kehidupanku di saat aku mendekatkan diri pada Allah khusus memohon ridho-Nya dalam hal jodoh. Sejuta pertanyaan hadir dalam benak dan hatiku dan aku tak mampu menjawabnya. Terlebih lagi dengan pengakuannya bahwa dia sudah lama berdoa pada Allah seandainya dia diijinkan untuk mempunyai istri dua, maka akulah pilihannya.

Aku memang tipe perempuan yang bisa menerima poligami dan aku pikir setiap perempuan di dunia ini haruslah mempunyai kesiapan diri bila suatu saat dirinya dimadu oleh suami-suami mereka karena memang lelaki diperbolehkan berpoligami sampai 4 dengan catatan bisa adil. Aku bisa saja menerima dia kembali dalam kehidupanku dengan menjadi istri kedua baginya tanpa pikir panjang lagi,tapi........dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak mampu menyakiti hati istrinya yang telah kukenal dan aku pernah dekat dengannya di kota kelahiranku. Aku tak mampu menjadi pesaing bagi istrinya karena aku juga punya rasa sayang terhadap istrinya.

Ya Allah, hatiku bagaikan panggangan yang siap untuk dibolak-balikkan. Aku tak tahu harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan, ya Allah....... Di satu sisi selama ini aku masih memendam rasa cinta padanya dan bahagia mengetahui bahwa dia juga masih mempunyai rasa yang sama terhadap diriku tapi disisi lain aku juga seorang perempuan yang punya perasaan tidak mau menyakiti hati seorang istri dan seorang anaknya.

Ya Allah, tolonglah aku untuk keluar dari masalah ini....berikanlah jalan keluar yang terbaik untuk aku khususnya dan untuk kami berdua. Aku berada dalam satu dilema........dan hanya Engkau yang tahu jalan kehidupanku dan penentu takdir jodohku apakah aku akan mendapatkan laki-laki lain ataukah aku akan menikah dengannya. Hanya Engkaulah yang tahu bahwa aku tetap mendekatkan diri padaMu dalam hal jodoh dan aku tetap memilih jalan untuk melakukan pendekatan dengan laki-laki lain.

Sobat, kamu punya solusi buat aku kan? ya...biar aku gak salah pilih. Kalo gitu, tulis dong di kotak komentar..makasih ya....

No comments: