Monday, March 14, 2011

Coffe Mix

Jum'at petang, KRL Jakarta Bogor begitu padat, tapi Alhamdulillah aku masih dapat tempat duduk walaupun harus ikut kereta balik ke kota dulu. Di sampingku duduk seorang wanita yang usianya gak jauh beda denganku. Dan tiba-tiba dia tanya padaku, " Ibu (duh...dipanggil ibu nih) kerja di mana?" berapa besar gajinya kerja di tempat Ibu?" weleh...belum kenal sudah nanya gaji.


Cerita akhirnya mengalir, dia sudah menikah dan mempunyai 2 anak. Dia terpaksa bekerja karena suaminya pengangguran yang hobi main poker tapi tidak dalam bentuk judi... (hanya Tuhan yang tahu) dan suka kehidupan diskotik. Dia capek tiap hari kerja berangkat pagi pulang petang untuk menghidupi 2 anaknya dan suaminya. Di samping capek fisik, karena bangun jam 4 untuk masak dan cuci baju, kerja berangkat pukul 6 dan pulang pukul 6 petang, sesampainya di rumah masih ngurusin anak-anaknya untuk memeriksa pekerjaan rumah sembari mengajari anak-anaknya belajar, Dirinya juga capek hati menghadapi tingkah laku suaminya yang katanya tidak punya hati dan perasaan. Setiap hari suaminya pergi entah kemana dan selalu meminta uang saku ke istrinya. Pulang larut malam bahkan tak jarang tidak pulang karena hobinya itu. Belum lagi dirinya sering dihina di depan wanita selingkuhannya.

Saya gak bisa berkata apa-apa karena wanita ini bercerita terlalu bersemangat. Walaupun mata saya sudah sangat ngantuk, tapi saya ingin menghargai dirinya dengan mendengarkan ceritanya. Mungkin dengan bercerita beban batinnya sedikit berkurang. Saya beranikan diri untuk bertanya, "Kenapa mbak gak minta cerai aja? bukannya harga diri mbak sebagai wanita, seorang istri dan seorang ibu sudah dinodai?" di luar dugaan, dia bilang "saya dengan suami hanya nikah di bawa tangan, dari dulu saya tidak pernah mau mencatatkan di KUA karena suami tidak mau berubah." Lho...kok...

Batin saya mengatakan, bukannya itu malah lebih mudah untuk berpisah? dan ternyata jawabannya di luar dugaan saya, " Saya merasa kasihan dengan suami saya. Perasaan ini sudah hambar, kami masing-masing berjalan sendiri, syukur dia pulang, syukur juga saya gak "dipakai". Masya'allah, batin saya. "Dulu saya disuruh kerja di Malaysia ikut saudara saya, bukan dirinya yang mau pergi." lanjutnya. "Sekarang saya kerja di sebuah bank di Jakarta sebagai Telemarketing, andai saja ada laki-laki yang baik dan mau menerima saya apa adanya, saya akan meninggalkan suami saya". Lho kok begitu?

Saya hanya bilang pada wanita itu, "jikalau mbak menerima apa adanya keadaan suami, terimalah lapang dada dan jangan pernah mengeluh, mintalah petunjuk pada Tuhan untuk masalah mbak. Masalah akan betumpuk menjadi satu jikalau tidak ada jalan keluar yang benar." Dan karena padatnya KRL, saya minta maaf untuk menghentikan obrolan kami dan saya pun tidur. END

komentar : dalam pengetahuan saya, seorang istri diperbolehkan untuk meminta cerai dari sang suami apabila sang suami tidak memberikan nafkah lahir ataupun batin selam 3 bulan berturut-turut. Apalagi jika kondisinya seorang suami yang suka main perempuan dan sering menghina seorang istri di depan selingkuhannya. Bagi saya, keputusan berpisah adalah hal yang terbaik. toh masing-masing berjalan sendiri-sendiri, janganlah rasa kasihan dijadikan alasan untuk mempertahankan suatu hubungan, tapi menataplah ke depan untuk kehidupan yang lebih baik untuk anak dan diri anda sendiri. Janganlah menunggu ada pria datang baru mengambil keputusan, pada dasarnya keputusan itu mutlak ada di tangan anda, apalagi status pernikahan hanya menikah di bawah tangan.

1 comment:

Jasa Website said...

cerita yang menarik, kira kira apa yang dipikirkan suaminya, kalo lihat istrinya kerja keras seperti itu, sedang dia asik2 maen poker... speechless... mudah2an TUhan membukakan hati sang suami. Nice Story..