Thursday, April 08, 2010

Rokok

Rokok? hmmm.......sebuah benda yang dapat membuat orang kecanduan. Berbagai cerita dan pengalaman yang sangat tidak masuk akal menurut saya. Teman-teman lelaki saya selalu berkomentar : " Serasa Hati dan pikiran ini tenang, walaupun hutang bertumpuk bila sudah merokok." lalu saya pun jawab sekenanya : " Iya, kamu merasa seperti itu di saat merokok, tapi saat rokok habis dihisab, tetap aja hutang bertumpuk dan terbebani lagi." Saya pribadi bingung dengan obrolan-obrolan tentang rokok.

Tapi di sini saya hanya mengutarakan kegelisahan hati saya, ketidaksetujuan saya dengan sikap dan perbuatan para perokok yang menurut saya sangat sangat egois. Terlebih lagi tempo hari Muhammadiyah mengeluarkan fatwa Haram untuk rokok. Banyak kalangan yang berkomentar ini dan itu. Hati saya tergelitik membaca komentar-komentar mereka.

Saya pribadi terusik dengan semua itu. Seperti yang diketahui banyaknya bahaya penyakit yang dapat ditimbulkan oleh hisaban dan asap rokok untuk perokok itu sendiri (perokok aktif) ataupun untuk orang-orang disekitarnya(perokok pasif). Banyak sudah artikel-artikel yang membahas bahaya rokok dan asap rokok bagi kesehatan manusia. Banyak sudah penemuan-penemuan ataupun hasil dari bahaya rokok dan asap rokok itu sendiri. Tapi itu semua tidak menyadarkan mereka yang merupakan perokok aktif.

Setiap hari saya menyaksikan dan mengalami sendiri keegoisan para perokok pada lingkungan sekitarnya. Setiap hari saya pergi pulang berangkat kerja naik kereta. Saya tenang bila naik kereta Ekonomi AC ataupun Ekspress. Karena AC, maka penumpang dilarang merokok di dalam. Tapi saya menerima kenyataan lain saat saya naik kereta KRL ekonomi. Para Perokok itu tidak bisa berpikir jernih dan tidak peduli dengan sekitarnya.

Sebenarnya sudah ada larangan dari pemerintah untuk merokok di tempat umum, di kendaraan umum. Tapi Indonesia terkenal dengan orang "ndableknya". Bila tidak diawasi maka lancar-lancar aja. Mereka dengan arogan dan egoisnya merokok di semua tempat dan di setiap kesempatan. Mereka masa bodoh dengan sekitarnya, apakah di situ ada balitakah, ada orang bengekkah atau ada orang yang alergi dengan asap, para perokok tetap saja menyalakan dan menghisab rokok tanpa ada beban dan tanpa ada perasaan berdosa. Yang ada di pikiran mereka hanyalah " Mulutku Asam ", " Aku gak bisa mikir/konsentrasi", " Aku ngantuk, ngerokok aja ah " dan sejuta alasan lainnya.

Seperti pagi ini, kembali aku saksikan kearogannya dan keegoisan dari beberapa para perokok yang tidak punya pikiran jernih dan benar-benar "ndablek". KRL ekonomi sudah padat dan manusia yang berdiri masih 5 shap, masih aja ada orang yang ngepulin asap rokok. asapnya bisa terhisap dari tempatku yang berjarak 3 meter. mereka itu benar-benar tidak punya etika, sopan santun dan kepedulian untuk sekelilingnya. Bahkan kemarin malampun saya menegur seorang pemuda yang dengan santainya merokok di KRL padahal KRL sudah mulai penuh, dengan entengnya dia menjawab : "Tanggung, sedikit lagi". Duh, manusia kok ndablek begitu.

Saya tidak habis berfikir, banyak kalangan yang mengkritik dengan fatwa Muhammadiyah dengan mengharamkan rokok. Tapi banyak kalangan yang tidak sadar dengan keegoisan dan kearoganan para perokok di saat mereka menghisab rokok. Asapnya bisa membahayakan orang lain entah itu balita, manula ataukah orang sehat lainnya, banyaknya sampah yang berserakan yang ditimbulkan oleh putung rokok dan bahaya-bahaya lain yang timbul, itu semua tidak terpikirkan oleh masyarakat luas terlebih lagi oleh perokok itu sendiri. Banyak kalangan yang tidak bisa menegur langsung para perokok itu, banyak kalangan yang menutup mata dengan kondisi yang ada. Lalu, dimana letak kepedulian kita untuk lingkungan kita?

Terlepas dari Fatwa Muhammadiyah yang mengharamkan rokok, yang terjadi sesungguhnya adalah kurangnya etika, sopan santun, kepeduliaan dan menghargai orang lain serta bergesernya keimanan pada individu itu sendiri. Apabila orang itu beriman, pasti individu itu paham akan kebersihan, kesehatan dan keselamatan orang lain.

Apabila individu itu beriman, maka dirinya tidak akan merokok di sembarang tempat, di setiap kesempatan yang ada serta mampu mengontrol keegoisan dirinya untuk kesehatan dan keselamatan orang lain serta kebersihan lingkungan di sekitarnya.

Fatwa apapun yang akan dikeluarkan oleh suatu lembaga tidaklah bermanfaat, tidaklah berpengaruh besar ataupun tidaklah mengubah seorang individu akan mematuhi peraturan pemerintah dan menerima fatwa itu sendiri bila tidak ada kerja keras pemerintah untuk menjalankan peraturan itu sendiri dan tidak adanya kesadaran pribadi dari para pecandu rokok tersebut.

Akibat keegoisan, kearoganan dan tidak adanya kesadaran individual, maka akan semakin jauhlah kita, Indonesia dari keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh tetangga kita sendiri yaitu Singapura yang mampu menjadikan negara yang bersih dan indah serta negara-negara yang sukses lainnya. Kita terlalu terlena dengan keegoisan dan kearoganan pribadi kita. Kita terlalu terlena dengan keenakan saat ini tanpa memandang dampak-dampak buruk yang akan ditimbulkan. Dan seperti biasa, manusia akan bertobat apabila sudah ada dampak yang nyata berubah bencana atau penyakit yang nyata di depan mata. Di saat itulah, penyesalan tidak ada artinya.

No comments: